BIAYA SISTEM MONETER GLOBAL – Global Monetary Problems

Mata uang Dolar Amerika Serikat dan Euro sebenarnya bukan mata uang internasional, tapi mata uang lokal dan kawasan yang diadopsi menjadi mata uang internasional. Dolar Amerika Serikat dan Euro diadopsi menjadi mata uang internasional karena dunia belum memiliki mata uang internasional. Adopsi mata uang ini menimbulkan biaya yang sangat mahal terhadap sistem ekonomi global. Biaya tersebut adalah biaya sistem moneter global dan dibebankan kepada seluruh negara di dunia.

Mata uang apa pun ketika digunakan di luar wilayahnya akan berubah menjadi mata uang tirani. Disebut tirani karena sifatnya seperti tirani, yaitu menyedot kekayaan negara-negara sekitar, dan menimbulkan biaya lainnya.

Di bawah ini adalah daftar biaya sistem moneter global :

1.     Membeli Kertas Dengan Emas

Untuk bisa masuk dalam perdagangan internasional, sebuah negara harus memiliki mata uang internasional. Dan mata uang internasional ini tidak gratis, tapi harus dibeli dengan barang dan jasa yang riil. Jadi sebelum masuk ke dalam perdagangan internasional, mereka harus membeli mata uang internasional terlebih dahulu. Setelah itu baru bisa melakukan transaksi dengan negara lainnya.

Sebaliknya, negara yang mengeluarkan mata uang internasional (Amerika Serikat dengan Dolar AS dan Eropa dengan Euro) mereka tidak perlu menjual apa pun untuk masuk ke dalam perdagangan internasional. Mereka hanya menjual secarik kertas bertuliskan angka dan mendapatkan minyak, emas, bahan tambang, bahan baku, mesin, dan seluruh produk dunia lainnya.

Amerika Serikat dan Uni Eropa membeli emas dengan kertas. Dan sebaliknya semua negara membeli kertas dengan emas.

Membeli kertas dengan emas adalah salah satu dari biaya sistem moneter global tirani.

2.    Cadangan Devisa yang Mubazir

Mata uang internasional yang dikumpulkan semua negara dari selisih perdagangan internasional setiap tahun disebut dengan cadangan devisa. Cadangan devisa adalah aset internasional yang cair (mudah dicairkan) seperti mata uang internasional dan emas.

Perdagangan internasional meningkat setiap tahun. Maka cadangan devisa setiap tahun idealnya juga meningkat. Jika perdagangan internasional meningkat sementara cadangan devisa tidak meningkat maka ketahanan moneter akan lemah.

Cadangan devisa adalah aset non produktif. Semakin besar cadangan devisa dimiliki oleh suatu negara semakin besar juga aset non produktif yang mereka miliki. Dan aset non produktif ini tidak bisa dihilangkan karena tanpa itu ketahanan moneter mereka akan lemah.

Gambar 1. Distribusi cadangan devisa seluruh negara di dunia. Sumber gambar dari visualcapitalist.com

Jadi semua negara di dunia berlomba-lomba menumpuk aset tidak produktif untuk membiayai perdagangan internasional dan membentengi ketahanan moneter mereka. Dari data IMF, total cadangan devisa semua negara di dunia untuk membangun ketahanan moneter per 2018 telah mencapai lebih dari 10.5 triliun US$.

Cadangan devisa adalah benteng moneter suatu negara. Fungsinya sama dengan benteng dan pasukan pertahanan dalam sebuah kerajaan. Benteng dan pasukan pertahanan tersebut di lain sisi juga memberikan ancaman pada kerajaan lainnya. Dari sisi ekonomi, pembangunan benteng dan pasukan pertahanan yang saling mengancam pada semua kerajaan adalah bentuk inefisiensi dan total loss. Banyak sumber daya yang digunakan untuk membangun sesuatu yang secara total tidak memberikan nilai tambah apa pun.

Menumpuknya cadangan devisa yang mubazir adalah salah satu dari biaya sistem moneter global tirani.

3.    Jebakan Utang Luar Negeri

Untuk mengimbangi perdagangan internasional yang selalu tumbuh, semua negara berusaha untuk surplus dalam perdagangan internasional at all cost. Masalahnya adalah tidak semua negara bisa beruntung mampu surplus setiap saat. Karena perdagangan internasional itu merupakan kegiatan timbal balik. Setiap ada penjualan 1 milyar pasti ada pembelian 1 milyar. Jadi tidak mungkin semua negara bisa surplus.

Di bawah ini adalah peta balance perdagangan Internasional negara-negara di dunia yang dirangkum dari data IMF tahun 2009.

Gambar 2. Peta cummulative balance of payments seluruh negara di dunia. Sumber gambar dari wikipedia.com

Lebih dari separuh negara di dunia tidak mampu mencapai kondisi ideal minimum surplus untuk menopang pertumbuhan perdagangan internasional mereka. Bahkan sebagian besarnya defisit.

Jalan keluarnya adalah negara-negara tersebut mengambil utang luar negeri. Lebih dari separuh negara di dunia terjebak dalam utang luar negeri karena perdagangan internasionalnya defisit sementara cadangan devisa harus naik.

Utang luar negeri itu ada bunganya. Bunga utang luar negeri bisa mengurangi cadangan devisa di masa depan. Jika bunga utang lebih besar daripada surplus perdagangan maka negara tersebut terjebak dalam utang luar negeri yang tidak bisa diselesaikan.

Jika biaya bunga sama besarnya dengan surplus perdagangan internasional, atau bahkan lebih besar, maka cadangan devisa negara tersebut tidak lagi memiliki sumber organik yang cukup. Tanpa perubahan kondisi, selamanya negara tersebut akan tergantung pada utang yang suatu saat akan mencapai titik jenuh sebelum akhirnya ambruk. Lebih dari separuh negara di dunia terjebak utang luar negeri yang tidak bisa dibayar.

Banyaknya negara yang terjebak dalam utang luar negeri yang tidak bisa dibayar adalah salah satu dari biaya sistem moneter global tirani.

4.    Biaya Depresiasi

Semua mata uang di dunia mengalami depresiasi. Hal ini karena mata uang setiap negara menempel dengan anggaran pemerintah. Semua pemerintah di dunia membuat anggaran defisit untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Defisit anggaran ini ditutup dengan utang dan mencetak uang baru. Utang dan mencetak uang baru menyebabkan inflasi. Inflasi menyebabkan mata uang terdepresiasi.

Masyarakat tidak mempermasalahkan depresiasi atau inflasi karena mereka mendapatkan kompensasi pertumbuhan ekonomi.

Masalahnya adalah ketika masyarakat yang dibebani biaya depresiasi berbeda dengan masyarakat yang mendapatkan manfaat pertumbuhan ekonomi. Hal ini terjadi dengan mata uang internasional.

Biaya depresiasi Dolar AS dan Euro dibebankan kepada seluruh negara di dunia. Sementara manfaat pertumbuhan ekonomi hanya dimanfaatkan oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Dua pertiga dari mata uang dolar beredar di luar tanah Amerika Serikat. Hanya sepertiga yang beredar di dalam negara Amerika Serikat. Ini artinya, dua pertiga defisit anggaran pemerintah Amerika Serikat dibebankan kepada seluruh dunia dan hanya sepertiga yang dibebankan kepada masyarakatnya sendiri. Jadi semua negara di dunia menyubsidi Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Dari data IMF, total mata uang internasional yang beredar di luar wilayahnya (US$ di luar Amerika Serikat, Euro di luar Eropa, dan mata uang lainnya di luar negaranya) per tahun 2018 mencapai 10,5 triliun US$. Ini berarti total biaya depresiasi yang dibebankan kepada seluruh dunia dan mengalir kepada negara pemilik mata uang tirani mencapai hampir 200 milyar dolar per tahun. Depresiasi mata uang US$ dan Euro adalah salah satu bentuk upeti yang mengalir dari negara pengguna kepada negara pemilik mata uang tirani.

5.    Perang Dagang

Negara memerlukan mata uang internasional untuk masuk ke dalam perdagangan internasional. Berhubung perdagangan internasional pada setiap negara umumnya meningkat setiap tahun maka kebutuhan terhadap mata uang internasional juga meningkat. Jika peningkatan perdagangan internasional ini tidak diimbangi oleh peningkatan mata uang internasional yang mereka miliki maka ketahanan moneter akan melemah. Jadi meningkatkan mata uang internasional atau cadangan devisa adalah suatu keharusan. Dengan demikian, surplus dalam perdagangan internasional juga keharusan.

Di sinilah letak masalahnya. Perdagangan internasional merupakan kegiatan timbal balik. Setiap ada penjualan 100 milyar pasti ada pembelian 100 milyar. Setiap ada negara yang surplus 100 milyar pasti ada negara yang defisit 100 milyar. Jadi tidak mungkin semua negara bisa surplus.

Di dunia ada 200 negara dan beberapa kawasan. Hanya 1 negara dan 1 kawasan yang boleh defisit. Lainnya harus surplus. Kejar target surplus menyebabkan seluruh negara di dunia terjebak dalam perang dagang selama-lamanya dan merugikan semua pihak.

Perang dagang adalah salah satu dari biaya sistem moneter global tirani.

6.    Ketidakseimbangan Internasional

Idealnya negara pemilik mata uang internasional (Amerika Serikat dan Eropa) memiliki trade balance negatif (defisit) dalam jumlah yang besar untuk memberikan ruang bagi negara-negara pengguna agar bisa surplus. Defisit USA dan Eropa ini bisa dibagi rata kepada semua negara di dunia sehingga mereka bisa surplus semua. Jika persaingan perdagangan internasional seimbang, idealnya seperti itu.

Tapi kondisi ideal ini ternyata tidak seperti itu. Persaingan dagang dunia tidak seimbang. Beberapa negara powerhouse seperti China, Jepang, Switzerland, dan Jerman memiliki daya ekspor yang sangat besar dan menghabiskan ‘jatah’ surplus yang disediakan oleh pemilik mata uang internasional. Jatah surplus tersebut semuanya diambil oleh negara-negara powerhouse tersebut. Akhirnya negara lainnya harus berjuang memperebutkan sisa-sisa yang bisa diperas. Banyak negara harus melakukan apa saja dan menghalalkan segala cara untuk meningkatkan ekspor. Perang dagang internasional akhirnya seperti peperangan di masa peradaban kuno. Banyak kerajaan bertahan hidup dengan menghancurkan kerajaan lainnya. Banyak kerajaan harus membangun benteng dari mayat tentara dan puing-puing benteng kerajaan lainnya.

Perang dagang yang tidak seimbang melahirkan ketidakseimbangan internasional.

Dalam ekonomi, apa pun yang tidak sustainable atau tidak bisa terjadi terus-menerus disebut dengan imbalance atau ketidakseimbangan. Negara yang mengalami defisit terus menerus tanpa ada perubahan sementara ada negara lain yang mengalami surplus secara terus menerus termasuk imbalance. Imbalance suatu saat pasti akan mencapai titik jenuh dan akhirnya terkoreksi dengan berbagai cara.

Gambar 3. Grafik international imbalances. Sumber gambar dari wikipedia.com

Pada gambar di atas, negara-negara yang berwarna biru cerah dan abu-abu, adalah negara-negara yang paling menderita dalam international imbalances ini. Mereka adalah negara pengguna mata uang internasional yang harusnya memiliki perdagangan internasional surplus, tapi justru defisit. Negara-negara ini semuanya terjebak dalam lingkaran utang internasional yang tidak bisa dibayar (insolvent).

Global imbalances selalu tumbuh dan membesar setiap tahun, karena daya saing negara-negara di dunia memang tidak seimbang. Sementara itu, sistem moneter internasional saat ini tidak memberikan respon sama sekali terhadap ketidakseimbangan tersebut.

Para ekonom menganggap krisis moneter yang terjadi secara rutin di dunia adalah bagian dari koreksi dari imbalance tersebut.

Sistem moneter global saat ini melahirkan international imbalances yang menjadi potensi krisis moneter setiap saat.

7.     Jebakan Pendapatan Menengah

Jebakan pendapatan sedang atau sering disebut middle income trap (MIT) adalah kondisi di mana negara yang telah mencapai tingkat pendapatan menengah (dengan pendapatan per kapita sekitar 10.000 – 15.000 USD), pertumbuhannya melambat sehingga sulit bahkan tidak pernah bisa mencapai negara pendapatan tinggi (negara maju). Dari laporan Bank Dunia disebutkan bahwa dari 101 negara yang telah masuk pendapatan menengah pada tahun 1960, hanya 13 negara yang lolos menjadi negara pendapatan tinggi pada tahun 2008. Sisanya, atau 88 negara terjebak menjadi negara pendapatan menengah dalam waktu yang sangat lama (Wikipedia).

Berbagai studi yang dibuat menyebutkan bahwa penyebab terjadinya MIT adalah lambatnya pemerintah melakukan transformasi struktur ekonomi dari sistem produksi yang mengandalkan upah buruh murah ke sistem yang mengandalkan keahlian tinggi. Studi lain juga menyebutkan penyebab dari middle income trap adalah rendahnya kapasitas dan keandalan infrastruktur, lambatnya adopsi teknologi, serta  sistem birokrasi yang masih belum bisa beradaptasi. Selain itu berbagai studi yang dibuat di tiap negara juga menunjukkan sebab dan kondisi yang berbeda-beda.

Dari sekian banyak penyebab middle income trap yang disebutkan oleh para ekonom ada satu faktor dominan yang terlewatkan, yaitu sistem moneter global sendiri.

Negara-negara yang terjebak dalam middle income trap umumnya mengalami transformasi yang lambat. Tuntutan para buruh untuk menaikkan upah minimum membuat pemerintah menaikkan upah. Sementara produktivitas mereka tidak berubah. Tingkat upah naik lebih cepat dari produktivitas. Hal ini menyebabkan biaya produksi barang dan jasa di negara tersebut menjadi lebih mahal setiap tahun. Tingkat pendapatan meningkat tapi daya saing tetap atau bahkan menurun karena tidak dapat mempertahankan efisiensi.

Di lain sisi, negara-negara yang sangat efisien mampu mempertahankan efisiensi produksi saat pendapatan mereka meningkat.

Dalam pasar global semua barang dan jasa bersaing secara head to head. Produk yang lebih efisien bisa menembus pasar negara yang tidak mampu mempertahankan efisiensi.

Dari sinilah problem dimulai. Negara yang tidak mampu mempertahankan efisiensi upah buruh (yang dalam negara berkembang masih menjadi faktor dominan biaya produksi) akan kalah bersaing dengan negara yang mampu mempertahankan efisiensi dan bahkan meningkatkan. Pasar domestik negara yang tidak mampu mempertahankan efisiensi dibanjiri oleh produk luar, dari negara yang efisien.

Nilai tambah ekonomi barang dan jasa itu ada pada proses produksi. Jika pasar domestik dipenuhi oleh produk impor maka nilai tambah ekonomi mengalir keluar. Nilai tambah ekonomi mengalir kepada negara eksportir.

Jika nilai tambah ekonomi mengalir keluar maka negara tersebut akan kehilangan energi untuk tumbuh. Pasar domestik adalah sumber energi yang besar untuk pertumbuhan ekonomi. Ketika pasar domestik ini diambil oleh negara lain yang lebih efisien, maka energi pertumbuhan negara tersebut juga ikut terambil.

Negara yang memiliki daya produksi dan efisiensi tinggi dengan mudah masuk dan menguasai pasar domestik negara yang biasa-biasa saja. Negara itu mendapatkan banyak kredit dan dengan modal kredit tersebut melaju menjadi negara yang makmur. Sementara negara yang pasar domestiknya diambil oleh negara tersebut, tidak memiliki energi untuk tumbuh.

Jadi sistem moneter tirani memang tidak memungkinkan semua negara bisa lolos dari income trap. Untuk setiap beberapa negara yang tinggal landas, harus ada negara lainnya yang tetap di landasan dan menjadi pijakan bagi negara yang tinggal landas tersebut.

13 negara yang lolos dari middle income trap, sebagian besarnya adalah negara powerhouse yang kemampuan ekspornya menembus negara lainnya. Tanpa bantuan pasar dari negara yang gagal tersebut, maka 13 negara itu tidak akan lolos dari trap dengan mudah. Dan sisanya adalah negara yang menjadi pasar dari negara-negara powerhouse tersebut atau negara kaya lainnya. Mereka terjebak di landasan. Mereka tidak pernah tinggal landas.

8.   Ancaman Krisis Moneter

Krisis moneter adalah akumulasi dari semua biaya sistem moneter tirani di atas yang pada saat tertentu sistem ketahanan moneter tidak mampu menahannya. Sistem pertahanan moneter jebol dan akhirnya membentuk keseimbangan yang baru. Krisis moneter adalah puncak dari biaya moneter global di atas, yang sudah tidak mampu ditahan oleh keseimbangan sistem moneter lokal.

Dalam krisis moneter Asia 1998, di samping kondisi moneter regional yang ada dalam ketidakseimbangan, ada faktor luar yang cukup dominan yang menjadi trigger dari krisis, yaitu kekuatan spekulasi.

Menurut John Maynard Keynes spekulasi adalah mengetahui pasar lebih baik dari pasar itu sendiri. Para ekonom masih pro dan kontra mengenai manfaat spekulasi bagi keseimbangan pasar. Para pendukung spekulasi meyakini bahwa spekulasi bisa membuat pasar lebih efisien karena berbagai distorsi atau hambatan bisa ditembus oleh aksi spekulasi ini. Sementara pada penolak spekulasi beranggapan bahwa spekulasi adalah aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah apa pun kecuali hanya fluktuasi.

Terlepas dari pro dan kontra di atas, spekulasi merupakan aktivitas yang riil dan memberikan efek pada dunia ekonomi kita, termasuk pasar uang atau FX market (Foreign Exchange Market). FX market merupakan pasar terbesar spekulasi. Hari ini, transaksi harian dalam FX market mencapai 5 triliun USD. Kekuatan spekulasi ini sangat besar karena saat ini tidak hanya melibatkan dana privat, tapi melibatkan mutual fund dan hedge fund. Menurut Investment Company Institute (ICI) Jumlah mutual fund pada akhir 2016 di seluruh dunia telah mencapai 40,4 triliun US$, dan sekitar 5,9 triliun US$ ada di pasar uang (FX market). Tidak ada satu negara pun di dunia yang mampu menahan aksi spekulasi dengan dana sebesar itu, jika di negara tersebut terdapat ketidakseimbangan moneter.

Pada awalnya spekulasi hanya merupakan kekuatan trigger (pengungkit) saja, selanjutnya, jika efek dari spekulasi ini tidak terkendali dan kepercayaan masyarakat runtuh maka ada dua kekuatan besar yang bekerja, yaitu FOMO dan FUD. FOMO adalah fear of missing out atau dalam bahasa Indonesia takut ketinggalan kereta. FUD adalah fear, uncertainty, and doubt.

Tekanan Ke Bawah Oleh Masyarakat Yang Ingin Ambil Untung.

FOMO adalah fear of missing out atau dalam bahasa Indonesia takut ketinggalan kereta. Ketika pasar terkoreksi oleh aksi spekulasi di atas, akan memunculkan FOMO, atau kekhawatiran ketinggalan kereta. Masyarakat akan melihat kenaikan mata uang asing tersebut sebagai peluang untuk mendapatkan untung. Dalam jumlah yang besar, FOMO akan mendorong mata uang lokal jatuh lebih dalam. Semakin banyak masyarakat yang takut kehilangan peluang, semakin dalam kejatuhannya.

Tarikan Ke Bawah Oleh Masyarakat Yang Takut Rugi

Di lain sisi, koreksi yang cukup besar bisa menimbulkan ketakutan nilai uang akan menyusut lebih jauh. Dalam situasi tersebut semua orang panik, tidak ada kepastian, dan tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Didorong oleh rasa takut, ketidakpastian, dan keraguan, akhirnya banyak orang yang menukar mata uang lokal dengan panik. Kepanikan dalam jumlah yang massal ini akan menarik kurs mata uang lokal makin jatuh lebih dalam.

Dengan gabungan dua kekuatan massal di atas, tekanan ke bawah dari masyarakat yang ingin ambil untung atau FOMO, dan tarikan ke bawah oleh masyarakat yang takut rugi atau FUD, sekuat apa pun pertahanan moneter suatu negara, akan ambruk juga. Karena untuk bisa kebal (invulnerable) dari full scale FOMO dan full scale FUD negara harus memiliki cadangan devisa 100% dari total uang beredar dan tabungan masyarakat. Dan tidak ada negara di dunia yang memiliki cadangan devisa 100% dari jumlah uang beredar dan tabungan masyarakat (M2).

Total uang beredar dan tabungan (M2) di Indonesia saat ini sekitar 5.666 triliun rupiah. Jika seluruhnya ditukar ke US$ dengan kurs 15.000 maka Indonesia memerlukan 378 milyar US$. Sementara cadangan devisa yang dimiliki 120 milyar dolar atau hanya 32% dari total M2. Saat ini negara yang memiliki cadangan devisa terbesar di dunia adalah China dengan total sekitar 3,16 triliun US$ dengan jumlah M2 sekitar 25 triliun US$. China memiliki rasio cadangan devisa 12%.

Tidak ada negara yang memiliki rasio cadangan devisa sampai 100% dari M2. Tidak ada negara yang 100% kebal terhadap pengaruh krisis moneter yang sampai pada level FOMO dan FUD dalam full scale.

Banyak ekonom memperkirakan tekanan global pada tahun 2018 ini hanya permulaan dan masih akan terus berlangsung sampai satu atau dua tahun ke depan. Tidak menutup kemungkinan akan terjadi krisis moneter di beberapa negara atau bahkan dalam skala yang lebih besar.

Negara-negara yang berwarna merah dalam gambar 2, selain USA dan Eropa, pada prinsipnya lebih rentan daripada Indonesia terhadap krisis moneter. Total kumulatif trading balance mereka negatif atau defisit. Jumlahnya lebih dari separuh negara di dunia.

Itu artinya lebih dari separuh negara di dunia pada tahun ini sampai satu atau dua tahun ke depan masih dihadapkan pada ketidakpastian. Jika ketidakpastian ini terus berlanjut dan menyebabkan krisis moneter, banyak negara akan mengalami sudden stop. Ekonomi dunia akan kehilangan aktivitas ekonomi senilai ratusan milyar sampai triliunan dolar Amerika Serikat. Pertumbuhan ekonomi yang dibangun selama puluhan tahun dengan segala upaya bisa terhapus hanya dalam hitungan hari dan diperlukan waktu bertahun-tahun sampai belasan tahun untuk recovery. Sebagian perusahaan tidak pernah recovery lagi. Hal yang semacam ini terus berulang dalam rentang sekitar satu dasawarsa, selama puluhan tahun, dan tidak ada tanda-tanda dunia menemukan jalan keluarnya.

9.    Ringkasan

Sistem moneter global tirani menyebabkan biaya yang sangat besar kepada seluruh negara di dunia. Biaya tersebut adalah :

Setiap negara yang akan masuk dalam perdagangan internasional harus membeli mata uang internasional dengan barang dan jasa yang riil.

Setiap negara harus membangun benteng cadangan devisa yang sangat besar dan mubazir, antara puluhan milyar sampai triliunan US$ untuk membentengi sistem moneter mereka.

Tidak semua negara beruntung berhasil surplus dalam setiap perdagangan internasional sehingga harus mengumpulkan utang luar negeri untuk membangun benteng cadangan devisa tersebut. Sebagian besar dari negara-negara tersebut terjebak dalam lingkaran utang luar negeri tanpa jalan keluar.

Cadangan devisa yang harus dikumpulkan dengan menjual barang dan jasa riil yang dikumpulkan selama puluhan tahun tersebut harganya turun (terdepresiasi) sepanjang waktu.

Semua negara di dunia terjebak dalam perdagangan internasional yang penuh tekanan, dan bahkan sebagiannya perang dagang.

Ketiadaan kontrol dalam sistem moneter tirani telah menyebabkan ketidakseimbangan global yang terus membesar sepanjang waktu dan sewaktu-waktu bisa menjelma menjadi krisis moneter.

Keberhasilan sebagian kecil negara untuk mencapai negara kaya menyebabkan sebagian besar negara lainnya terjebak dalam income trap karena pasar mereka diambil oleh negara-negara pemenang tersebut.

Semua negara di dunia, terutama yang cadangan devisanya berasal dari utang luar negeri, selalu dihantui oleh krisis moneter yang datang secara berkala.

Delapan biaya sistem moneter global tirani dua di antara adalah zero sum game yang menyebabkan inefisiensi di aliran modal dan sisanya merupakan total loss. Ukuran kerugian biaya sistem moneter global tersebut sangat besar karena dalam skala ekonomi dunia yang mencapai 80 triliun USD.